Cerpen / cerita pendek
(short story) adalah jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita
tentang manusia dan seluk beluknya lewat tulisan pendek.
Cerita pendek bermula pada tradisi
penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan
Odyssey karya Homer.
Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Arti Sebuah Waktu
Alkisah ada seorang wanita yang hidup di
sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi
wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada
kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang
tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun
menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan
tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”. Mendengar perkataan ibunya
dia pun tersenyum.
Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di
tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan
dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat
mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.”
Tiba-tiba di
tengah-tengah hayalannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya
“kenapa nak kamu tersenyum sendiri?” “Saya sedang membayangkan andaikan saja ku
bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu
mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu
tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera
meraih cita-citamu”. “Baik nek”, kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia
memutar jam tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi. Dan tiba-tiba
dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Tapi dia tak puas
dengan lamanya waktu yang di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.
Kemudian
dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun menjadi cantik. Lagi-lagi
dia kurang puas dengan wajahnya, dan kembali dia memutar jam kecil pemberian
nenek-nenek yang pernah dia temui sekali lagi. Tapi setelah memutar jamnya dia
mendapati wajahnya yang semula cantik jelita menjadi tua dan keriput.
Dan dia
menyesal dengan keadaan dia sekarang. Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek
yang memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu. Tapi dia tak melihat nenek
tersebut karena nenek itu telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan
menangisi nasibnya.
II. Dua Wajah Ibu
Deru burung besi itu kian nyaring begitu
melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring
burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian
pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya
berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata
lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya
saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana:
Tanah Abang.
Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan
televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan
segala hal.
Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.
Ia
adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba
Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam
jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya.
Hidungnya pun
belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di
belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih
sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar
lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan
matanya.
Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang
tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang
kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing,
aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa
perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak
bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia.
Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan.
”Kesinilah, Mak.
Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum
Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya
yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara
itu berasal dari benda aneh di genggamannya. ”Dengan siapa Mak ke situ?”
lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang.
Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.
Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.
”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia
balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah
gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah
janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti
radio tua itu terputus.
Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya. ***
Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya. ***
Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat
mata lamurnya menggerayangi terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia
menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya
demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya
heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit
sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat
perut Mak Inang mual itu tercium melati.
Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.
Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci,
sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya
begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok
yang sudah diperasnya itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya
menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret
di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang
laknat tak tahu diri itu.
Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini.
Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini.
Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada
satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan.
Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya. ”Mak hendak pulang, Mal. Sudah
seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,”
lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin
berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya.
Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban. ”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.
Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban. ”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.
”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya
tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan.
Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai,
menantunya, dari arah dapur yang pengap.
Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.
Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa.
Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis. Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.
Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.
Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa.
Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis. Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.
***
Tangan Mak Inang kembali
menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali
berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan
tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu,
menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa
dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang
dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan
gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi
mengumandangkan adzan.
Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi
sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar
suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan
wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di
langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit
keringnya. Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di
almanak dalam benak.
Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah
seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang
pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di
kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak
Inang terkunci rapat.
Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang
yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di
depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi.
Perempuan
itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember
plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak
gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu
bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.
Artikel Asli : http://berita-i.blogspot.com/2013/08/contoh-cerpen-singkat-lengkap.html
gambar : novelmu.com
Artikel Asli : http://berita-i.blogspot.com/2013/08/contoh-cerpen-singkat-lengkap.html
gambar : novelmu.com
Contoh Cerpen Singkat : Arti Sebuah Waktu
Reviewed by curl not curly
on
18.16
Rating:
Reviewed by curl not curly
on
18.16
Rating:


Tidak ada komentar: